KARYA ILMIAH
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
PADA PENGAJARAN MATEMATIKA
DI SEKOLAH BUNDER I PADEMAWU
Oleh :
SUTRISNI
Nip. 130458499
SD NEGERI BUNDER I PADEMAWU
CABANG DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
KECAMATAN PADEMAWU KABUPATEN PAMEKASAN
Tahun 2007
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
PADA PENGAJARAN MATEMATIKA
DI SEKOLAH BUNDER I PADEMAWU
Kepala SDN Bunder I Penulis,
Kec. Pademawu
SATRIYO, S. Ag. SUTRISNI
Nip. 130622174 Nip. 130458499
KATA PENGANTAR
Tak henti-hentinya penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan taufiq dan hidayahnya sehingga terselesainya Karya Ilmiah dengan judul “ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH PADA PENGAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH BUNDER 1 PEDEMAWU”
Karya Ilmiah penulis teliti pada siswa kelas VI tahun pelajaran 2006 / 2007, penulis berharap Karya Ilmiah ini dapat kualitas pendidikan pada era glonalisasi nanti.
Penulis tak lupa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga terhadap berbagai pihak yang membantu selesainya Karya Ilmiah ini, mudah-mudahan Allah SWT membalas dengan pembalasan yang sesuai.
Sebagai manusia yang tentu banyak kekurangan, maka Karya Ilmiah ini masih ada kekurangan juga. Oleh karena itu penulis berharap kritik dan saran yang bersifat membangun agar lebih sempurna.
Akhirnya penulis mengucapkan alhamdulillah robbil alamin.
Pamekasan, 01 Maret 2007
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HalamanJudul..........................................................................................................
Kata Pengantar......................................................................................................... ii
Daftar Isi................................................................................................................. iii
BAB I..... PENDAHULUAN.................................................................................. 1
A. Latar Belakang ......................................................................... ....... 1
B. Rumusan Masalah............................................................................ 3
C. Tujuan Pembahasan.......................................................................... 3
D. Metode Pembahasan........................................................................ 4
BAB II... PEMBAHASAN..................................................................................... 5
A. Pemgertian Belajar Mengajar............................................................. 5
B. Metode mengajar............................................................................... 7
C. Prinsip-prinsip Belajar...................................................................... 11
D. Masalah di dalam Pengajaran Matematika...................................... 14
E. Alternatif Pemecahan Masalah Pada Pengajaran
Matematika Sekolah Dasar.............................................................. 16
BAB III.. PENUTUP....................................................................................... ..... 18
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 20
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Sesuai dengan prinsip pendidikan sumber hidup seperti yang diamanatkan dalam GBHN, manusia belajar sepanjang hidupnya. Melalui belajar manusia berusaha menguatkan potensi dirinya dan lingkungannya seoptimal mungkin agar tercapai kenikmatan hidup dalam penyesuaian yang harmonis, dinamis, berkesinambungan antara dirinya dengan lingkungannya.
Lembaga pendidikan, terutama sekolah berusaha mengarahkan dan memaksimalkan efektifitas belajar dengan jalan merencanakan dan mengorganisasikan pengalaman belajar mengajar. Dalam pengalaman belajar mengajar terjadi interaksi yang terarah, terkendali dan terintegrasi antar bagian yaitu guru dengan siswa dengan harapan terjadi perubahan atau perkenbangan setiap orang yang terlibat di dalamnya.
Dalam pelaksnaan di seklah, sistem tersebut menjadi empat komponen utama, yaitu : Tujuan, Materi, Pengalaman belajar mengajar (PBM), dan evaluasi. Tiap komponen merupakan bagian yang tidak dapt dipisah-pisahkan dari sistem yang disebut pengajaran.
Memecahkan suatu masalah merupakan suatu aktivitas dasar bagi manusia ynag menunjukkan sebagian besar kehidupan kita adalah berhdapan dengan masalah-masalah, kita perlu mencari penyelesaiannya. Bila kita gagal denga suatu cara untuk menyelesaikan suatu masalah, maka kitaharus mencoba menyelsaikan dengan cara lain, dan kita harus berani menghadapi masalah untuk menyelesaikannya.
Adapun tujuan pendidikan pada hakikatnya adalahsuat proses terus menerus manusia untuk menaggulanggulangi masalah-malasah yang dihadapi sepanjang hayat, karena itu siswa harus benar-benar dilatih dan dibiasakan berfikir secara mandiri.
Dengan demikian, tidak berlebihan kiranya apabila pemecahan masalah seyokyanya merupakan strategi belajar mengajar di sekolah-sekolah. Karena itu pembahasan dalam karya ilmiah ini penulis fokuskan pada pembahasan dalam ruang lingkup pengajaran matematika di sekolah dasar.
Yang menjadi masalah adalah bagaimana pemecahan masalah itu diintegrasikan ke dalam kegiatan belajar mengajar matematika. Keterampilan memecahkan masalah harus dimiliki siswa. Keterampilan tersebut akan dimiliki para siswa bila guru mengajarkan bagaimana memecahkan masalah yang efektif kepada siswa-siswanya.
Suatu pertanyaan akan merupakan suatu masalah hanya jika seseorang tidak mempunyai aturan / hukum tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut. Pertanyaan itu dapat juga terselip dalam suatu situasi sedemikian hingga situasi itu sendiri perlu mendapat penyelesaian.
Nampak di sini bahwa memecahkan masalah ini merupakan aktivitas mental yang tinggi. Perlu diketahui bahwa suatu pertanyaan merupakan masalah bergantung pada individu dan waktu. Artinya, suatu pertanyaan merupakan suatu masalah bagi siswa, tetapi mungkin bukan merupakan suatu masalah bagi siswa yang lain. Pertanyaan yang dihadapkan kepada siswa yang tidak bermakna akan bukan merupakan masalah bagi siswa tersebut. Dengan perkataan lain, pertanyaan yang dihadapkan kepada siswa haruslah dapat diterima oleh siswa tersebut. Jadi pertanyaan itu harus sesuai dengan struktur kognitif siswa.
Demikian juga pertanyaan merupakan suatu masalah bagi seorang siswa pada suatu saat., tetapi bukan merupakan suatu masalah bagi siswa tersebut pada saat berikutnya, bila siswa tersebut sudah mengetahui cara atau proses mendapatkan penyelesaian masalah tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis mencoba mengangkat sebuah judul karya ilmiah ini yang ada kaitannya dengan masalah pengajaran matematika, yaitu “Altenatif Pemecahan Masalah Pada Pengajaran Matematika Sekolah Dasar” yang di dalamnya akan membahas tentang masalah di dalam matematika dan akhirnya pemecahan masalah di dalam kegiatan belajar mengajar matematika.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang dan kenyataan tersebut serta agar mengarah pada persoalan yang akan di kaji, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : “ Bagaimanakah Alternatif Pemecahan Masalah pada Pengajaran Matematika Sekolah Dasar Dapat Dilakukan Secara Efektif “.
C. TUJUAN PEMBAHASAN
Tujuan dari pembahasan adalah merupakan suatu strategi yang hendak dicapai dalam suatu kegiatan penelitian / pembahasan. Sutrisno Hadi (1981:3) memberikan tujuan penelitian / pembahsan sebagi usaha untuk menemukan, mengembangkan atau menguji kebenaran suatu pengetahuan. Sedangkan yang ingin dicapai dalam pembahasan ini adalah “untuk mengetahui bagaimanakah pemecahan masalah di dalam pengajaran matematika Sekolah Dasar dapat dilakukan secara efektif”.
D. METODE PEMBAHASAN
Metode pembahsan karya ilmiah ini menggunakan metode Library Research atau kajian kepustakaan. Metode Library Research merupakan suatu proses penelitian atau pembahasan dengan cara atau melalui membaca dan mengkaji bahan-bahan atau literatur kepustakaan dan didukung oleh pengalaman-pengalaman selama mengajar, sehingga dapat dijadikan landasan pemikiran dalam pembahasan karya ilmiah ini secara teoritis.
BAB II
PEMBAHASAN TEORITIS
A. STRATEGI BELAJAR MENGAJAR
1. Pengertian
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dala rangka mencapai sasaran yang telah ditentukan. Jika dihubungkan dengan kegiatan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru murid di dalam mewujudkan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dengan strategi tersebut, diharapkan sedikit banyak akan membantu memudahkan para guru dalam melaksankan tugasnya. Suatu kegiatan belajar mengajar yang dilakukan tanpa strategi, berarti kegiatan tersebut dilakukan tanpa pedoman dan arah yang jelas. Suatu program yanag dilaksanakan tanpa pedoman dan arah yang jelas, dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan, yang pada gilirannyabisa mengakibatkan tidak tercapainya tujuan yang hendak dicapi.
Strategi belajar mengajar meliputi :
a. Mengidentifikasikan dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian peserta didik yang bagaimana yang diharapkan.
b. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
c. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan tehnik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif, sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
d. Memilih dan menetapkan norma atau kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru untuk melakukan evaluasi.
Keempat dasar strategi tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh, diantara dasar yang satu dengan yang lain saling menopang tidak tidak dapat dipisahkan.
2. Klasifikasi Belajar Mengajar
Menurut Tabrani Rusyan dkk, terdiri berbagai masalah sehubungan dengan strategi belajar mengajar yang secara keseluruhan diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Konsep kegiatan belajar mengajar
b. Sasaran kegiatan belajar mengajar
c. Belajar mengajar sebagaisuatu sistem
d. Hakekat proses belajar
e. Enterning behavior siswa (perubahan tingkah laku)
f. Pola-pola belajar siswa
g. Memilih sisten belajar mengajar
h. Supervisi dan pengawasan, yakni usaha mengawasi, menunjang, membantu menugaskan intruksimal yang telah didesain sebalumnya
i. Penalitian yang harus bersifat assessment yang mengandung pengertian yang labih luas dibanding dengan pengukuran atau evaluasi pendidikan.
Guru harus pandai memilih apa isi pengajaran serta bagaimana proses belajar itu harus dikelola dan dilaksanakan disekolah. Ada dua jenis belajar yang dikenal dan harus dibedakan yakni belajar konsep dan belajar proses atau keterampilan proses.Belajar konsep lebih menekankan hasil belajar pada pemahaman fakta dan prinsip, banyak bergantung kepada bahan atau isi pelajaran, dan lebih bersifat kognitif. Sedangkan belajar proses atau keterampilan proses lebihditekankan kepada masalah bagaimana pelajaran itu diajarkan dan dipelajari.
Kedua jenis belajar itu merupakan garis kaontinom, yang satu lebih menekankan pengayatan proses, dan prinsip. Perlu diketahui bahwa belajar keterampilan proses tidak mungkin terjadi bila tidak ada materi atau bahan pelajaran yang harus dipelajari. Sebaiknya juga belajar konsep tidak muingkin terjadi tanpa keterampilan proses diri siswa.
B. METODE MENGAJAR
1. Pengertian
Sebelum membahas tentang pengertian metode mengajar kita perlu faham dulu tentang pengertian mengajar. Dengan memahami pengertian dan hakekat mengajar, guru diharapkan dapat lebih hati-hati dalam melaksanakan tugasnya dan dapat pula mempebaiki kekurangan-kekurangan yang dilakukannya sehingga ia akan lebih berhasil.
Pendapat para ahli :
a. Mengajar adalah menanamkan pengetahuan sebanyak-banyaknya dalam diri anak didik
b. Mengajar merupakan usaha menyampaikan kebudayaan pada anak didik
c. Mengajar diartikan menata berbagai kondisi belajatsecara pantas
Tiap usaha mengajar mempunyai tujuan, antara lain adalah :
a. Menumbuhkan atau menyempurnakan pola laku tertentu dalam diri peserta didik, disamping untuk menumbuhkan kebiasaan yang baik.
b. Pengajaran juga bertujuan ingin memekarkan kemampuan berfikir dan bertindak para peserta didik, sehingga ia sanggup menghadapi situasi dan keadaan tertentu serta mampu menentukan sikap dan tindakan dalam keadaan tersebut.
c. Untuk mencapai maksud dan tujuan itu diperlukan cara penyampaian yang baik, yang biasa disebut metode mengajar. Metode mengajar diartikan sebagai suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan seorang guru atau instruktur. Pengertian lain ialah tehnik penyampaian atau penyajian yang dikuasai guru untuk mengajaratau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas
d. Metode mengajar ini harus dipelajari oleh setiap guru agar ia berhasil dalam tugasnya. Makin baik metode mengajarnya, makin efektif pula penyampaian tujuan.
e. Efektivitas suatu metode mengajar di kelas sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor tujuan, faktor siswa, faktor situasi dan faktor guru itu sendiri.
2. Macam-macam metode mengajar
- Metode mengajar secara kelompok / klasikal
i). Metode ceramah
Metode ceramah ialah sebuah bentukintruksi melalui penerangan dan peraturan secara lisan oleh seorang guru terhadap kelasnya dengan menggunakan alat bantu gambar, tetapi yang utama adalah lisan.
Peran siswa mendengarkan dengan teliti serta mencatat pokok penting yang dikemukakan guru.
ii). Metode tanya jawab
Metode tanya jawab ialah penggunaan pertanyaan sebagai stimulasi dan jawaban-jawabannya merupakan pengarahan dalam aktifitas belajar siswa. Pertanyaan harus sedemikian rupa, sehingga pertanyaan yang stu mempunyai hubungan dengan pertanyaan yang lainnya.
Pertanyaan dapat diajukan oleh guru atau siswa dan demikian pula jawabannya dapat diberikan oleh guru atau siswa. Dengan kata lain, gurubertanya dan siswa menjawab, siswa bertanya lalu guru menjawab atau siswa yang satu bertanya dan siswa yang lain menjawab.
iii) Metode diskusi
Metode diskusi ialah mengemukakan pendapat dalam musyawarah untuk mufakat. Dalam pemecahan masalah diperlukan bermacam-macam jawaban kemudian dipilih satu jawaban yang lebih tepat dan mempunyai argumentasi yang kuat, yang menolak jawaban yang mempunyai argumen lemah.
iv) Metode demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode yang dipergunakan oleh seorang guru atau orang luar yang sengaja didatangkan atau siswa sekalipun untuk mempertunjukkan gerakan-gerakan atau suatu proses dengan prosdur yang benar serta disertai keterangan-keterangan kepada seluruh kelas.
Guru perlu memecahkan secara lebih berhati-hati dan ia memerlukan kecakapan untuk mengarahkan motivasi dan berfikir siswa. Siswa mengamati dengan teliti dan seksama serta penuh perhatian dan partisipasi.
v) Metode sosiodrama
Metode sosiodrama berarti cara menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan atau mempertontonkan atau mendramatisasikan cara tingkah laku dalam hubungan sosial.
vi) Metode karyawisata
Metode karyawisata ialah metode belajar mengajar dengan mengajak anak didik dibawah bimbingan guru mengunjngi tempat-tempat tertentu denagn maksud untuk belajar. Berbeda dengan tamasya yangtujuannya mencari hiburan, dengan karyawisata siswa diikat oleh tujuan dan tugas belajar.
vii) Metode kerja kelompok
Kerja kelompok dipakai untuk merangkum pengertian dimana anak didik di dalam satu kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri, untuk mencari satu tujuan pelajaran tertentu dengan gotong royong.
- Metode mengajar secara individual
i) Metode latihan
Metode latihan merupakan suatu cara mengajar yang paling baik, kebiasaan tertentu dan memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.
ii) Metode pemberian tugas
Metode pemberian tugas adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana guru melkukan kegiatan belajar mengajar, kemudian harus dipertanggung jawabkannya. Tugas yanmg diberikan guru dapat memperdalam bahan pelajaran yang mengecek bahan yang telah dipelajari
iii) Metode eksprimen
Metode eksprimen adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Siswa diberi kesempatan untuk mengalami dan membuktikan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sndiri tentang suatu objek, keadaan atau proses sesuatu.
Setiap penggunaan metode mengajar tersebut dipergunakan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Langkah pendahuluan atau persiapan
b. Langkah pelaksanaan
c. Langkah penutup atau tindak lanjut
C. PRISIP-PRINSIP BELAJAR
Kalau kita perhatikan tentang teori-teori belajar maupun teori mengajar dapat kita lihat bahwa keduanya mengandung beberapa prinsip yang sangat mendukung bagi proses belajar dan mengajar dalam rangka mencapai tujun yang diharapkan sesuai dengan itu dapat dilihat pula bahwa pada metode mengajarpun terdapat prinsip-prisip umum yang menjadi dasar metode menajar tersebut.
Terdapat bermacam-macam pendapat para ahli tentang apa dan berapa jumlah prinsip itu,namun kita kemukakan disini beberapa prinsip saja antara lain :
1. Prinsip Motivasi dan Tujuan
Guru perlu memelihara motivasi belajar karena hal itu sangat penting. Dengan motivasi yang tinggi seseorang akan belajar dan belajar menjadi lebih giat, ia seolah-olah tidak akan merasa lelah dan bosan. Sebaliknya tanpa motivasi seseorang akan merasa belajar atau bekerja tanpa gairah karena tudak ada rangsangan yang mendorong.
Demikian pula, seseorang akan bekerja dan belajar dengan giat apabila ia tahu bahwa ia akan mencapai hasil yang bermanfaat baginya. Oleh sebab itu guru perlu menetapkan tujuan belajar mengajar dan memberitahu kepada siswa. Tujuan harus jelas untuk memudahkan guru dalam memilih bahan pelajaran yang akan diberikan dan menentukan bahan yang akan diujkan.
2. Prinsip Taraf Kematangan dan Perbedaan Individual
Setiap guru mengetahui dan memahami tentang taraf kematangan dan taraf kesediaan belajar seorang siswa sehingga dengan demikian dia akan mudah menentukan bagaimana ia harus menghadapi siswa itu dan menentukan metode mengajar apa yang dipergunakannya.
Tiap anak tidak sama, terdapat perbedaan indivudual. Hal ini disebabkan latar belakang kehidupan siswa, bat, dan lingkungannya.
Perbedaan itu pada umumnya meliputi :
- Waktu dan irama perkembangan
- Motif, intelegensi dan emosi
- Kecepatan belaar / menangkap pelajran
- Bakat dan lingkungan
Guru perlu mengetahui hal ini dan oleh sebab dalam menggunakan metode mengajar, ia harus menyesuaikan dengan perbedaan-perbedaan tersebut.
3. Prinsip Peluang Pengalaman Praktis
Setiap pendidik seharusnya mempersiapkan peluang partisipasi yang praktis bagipara siswanya agar apa yang telah dipelajarinya akan lebih tertanan secara mantap, otentik, tahan lama dan otomatis sifatnya.
Ada empat prinsip yang perlu dipegang dalam hubunga dengan peluang partisipasi praktis ini, yaitu :
a. Prinsip partisipasi praktis
b. Prinsip penafsiran arti dan penjelasan yang konkret terhadap pengetahuan dan fakta-fakta yang dipelajari
c. Prinsip pengulangan
d. Prinsip tauladan yang baik dan mengamalkan sendiri apa yang telah dipelajari
4. Prinsip Integrasi Pemahaman dan Pengalaman
Setiap guru prlu memperhatikan kefahaman, hubungan, imtegrasi, pengalaman dan kelnjutannya, keaslian, pembaharuan dan kebebasan berfikir. Yang dimaksud dengan pemahaman dam pemikiran adalah pandangan yang menyeluruh dan lengkap melengkapi dalam setiap permasalahan, sedangkan untuk melaksanakan itu diharapkan seseorang dalam menghadapi setiap permasalahannya dapat menghadapi dengan pemikiran yang orisionaldan bebas. Dan justru keaslian dan kebebasan berfikir mendapat perhatian yang utama.
Demikian pula pada setiap menghadapi masalah agar memperhatikan pengalaman masa lalu dengan pengalaman masa kini sehingga kedua-duanya dapat membantu memperoleh pengalaman masa mendatang.
5. Prinsip Proses Belajar Mengajar Fungsional dan Menggembirakan
Setiap guru diharapkan dapat menciptakan suasana yang menggembirakan dalam kegiatan mengajar karena hal itu akan menambah gairah siswa untuk belajar. Guru hendaknya lemah lembut, manusiawi, menghargai siswa dan jangan terlalu membatasi serta bersifat otokratis.
D. MASALAH DI DALAM PENGAJARAN MATEMATIKA
Suatu pertanyaan akan merupakan suatu masalah hanya jika seseorang tidak mempunyai aturan / hukum tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menentukan jawaban pertanyaan tersebut. Pertanyaan itu dapat juga terselinap dalam suatu situasi sedemikian hingga situasi itu sendiri perlu mendapat penyelesaian.
Nampak disini bahwa memecahkan masalah ini merupakan aktivitas mental yang tinggi. Perlu diketahui bahwa suatu pertanyaan merupakan masalah bergantung pada induvidu dan waktu. Artinya suatu pertanyaan merupakan suatu masalah bagi siswa, tetapi mungkin bukan merupakansuatu masalah bagi siswa yang lain. Pertanyaan yang dihadapkan kepada siswa yang tidak bermakna akan bukan merupakan masalah bagi siswa tersebut. Dengan perkataan lain, pertanyaan yang dihadapkan kepada siswa haruslah dapat diterima oleh siswa tersebut. Jadi pertanyaan itu harus sesuai dengan struktur kognitif siswa.
Demikian juga pertanyaan merupakan suatu masalah bagi seorang pada saat itu, tetapi bukan merupakan suatu masalah lagi bagi siswa tersebut pada saat berikutnya, bila siswa tersebut sudah mengetahui cara atau proses mendapatkan penyelesaian masalah tersebut.
Jelas kiranya, syarat suatu bagi seorang siswa adalah sebagai berikut :
1. Pertanyaan yang dihadapkan kepada seorang siswa haruslah dapat dimengerti oleh siswa tersebut, namun pertanyaan itu harus merupakan tantangan baginya untuk menjawabnya.
2. Pertanyaan tersebut tidak dapat diselesaikan prosedur rutin yang telah diketahui siswa. Karena itu, faktor waktu untuk menyelesaikan masalah jangan lah dipandang sebagai hal yang esensial.
Dalam pengajaran matematika, pertanyaan yang dihadapkan kepada siswa biasanya disebut soal. Dengan demikian, soal-soal matematika akan dibedakan menjadi dua bagian berikut ini :
1. Latihan yang diberikan pada waktu belajar matematika adalah bersifat belatif agar terampil atau sebagai aplikasi dari pengertian yang baru saja diajarkan.
2. Masalah tidak seperti halnya latihan tadi, menghendaki siswa untuk menggunakan sintesa atau analisa. Untuk menyelesaikan suatu masalah, siswa tersebut menguasai hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya yaitu mengenai pengetahuan, keterampilan dan pemahaman, tetapi dalam hal ini ia menggunakannya pada suatu situasi baru.
E. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH PADA PENGAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DASAR
Telah dikemukaka di atas arti masalah. Adapun pemecahan masalah secara sederhana merupakan proses penerimaan masalah sebagai tantangan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Mengajarkan pemecahan masalah kepada siswa merupakan kegiatan dari seorang guru dimana guru itu membangkitkan siswa-siswanya agar menerima dan merespon pertanyaan-pertanyaan yang diajukan olehnya dan kemudian ia membimbing siswa-siswanya untuk sampai kepada penyelsaian masalah.
Bagi siswa pemecahan masalah haruslah dipelajari. Di dalam menyelesaikan maslah, siswa diharapkan memahami proses penyelesaian masalah tersebut dan menjadi terampil di dalam memilih dan mengidentifikasikan kondisi dan konsep yang relevan, mensari generalisasi, merumuskan rencana penyelesaian dan mengorganisasikan keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya.
Nampaklah bahwa pemecahan masalah mempunyai fungsi yang penting di dalam kegiatan belajar mengajar matematika. Guru menyajikan masalah-masalah, sebab melalui penyelesaian masalah siswa-siswa dapat terlatih dan mengintegrasikan konsep-konsep, teorema-teorema dan keterampilan yanag telah dipelajari. Hal ini penting bagi para siswa untuk terlatih memproses data atau informasi.
Mengajar siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah memungkinkan siswa itu menjadi lebih analitik di dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan (Cooney et. Al. Dalam Herman Hudoyo. 2001 : 167). Dengan perkataan lain, bila seorang siswa terlatih untuk menyelesaikan masalah, maka siswa itu akan mampu mengambil keputusan, sebab siswa itu menjadi mempunyai keterampilan tentang bagaimana mengumpulkan informasi yang relevan. Menganalisis informasi dan menyadari betapa perlunya meneliti kembali hasil yang telah diperolehnya.
Matematika yang disajikan kepada siswa-siswa yang berupa masalah akan memberikan motivasi kepada mereka untuk mempelajari pelajaran tersebut. Para siswa merasa puas bila mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapkan kepadanya. Kepuasan intelektual ini merupakan hadiah intrinsik bagi siswa tersebut. Karena itu alangkah baiknya bila aktivitas-aktivitas matematika seperti mencari generalisasi dan menanamkan konsep melalui strategi pemecahan masalah.
Masalah teka-teki misalnya, dapat menimbulkan rspon kreatif bagi siswa. Kebanyakan siswa mempunyai keingin tahuan intelektual, sehingga mereka akan suka menyelesaikan masalah-masalah semacam itu. Guru menyajikan masalah-masalah matematika sebagai tugas mingguan. Bila setiap masalah yang dihadapkan ke siswa-siswa, matematika dapat merupakan tantangan intelektual, nampaknya bahwa siswa meningkat di dalam keterampilannya menyelesaikan masalah.
Dengan dihadapkan suatu masalah, maka siswa berusaha menemukan penyelesaiannya. Ia belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses memecahkan masalah.
BAB III
KESIMPULAN
Melihat beberapa hal yang telah diuraikan seperti tersebut di atas dapat kami simpulkan bahwa dalam pemecahan masalah di dalam pengajaran matematika, seorang selaku pendidik perlu adanya strategi dalam belajar mengajar, metode mengajar, yang harus digunakan dalam proses belajar mengajar sehingga sasaran dan tujuan pendidikan dapat tercapai dan terlaksana sesuai yang diharapkan.
Dalam proses belajar mengajar, strategi belajar mengajar harus harus dipahami oleh seorang guru sehingga dengan adanya strategi yang telah dikuasai atadi dapatmemudahkan guru dalam melaksanakan tugasnya. Guru harus pandai memilih apa isi pelajaran dan bagaimana proses belajar itu harus dikelola dan dilksanakan di sekolah. Disamping itu metode atau cara penyampaian pelajaran harus dipelajari oleh setiap guru agar berhasil dalam tugasnya. Makin baik metode mengajarnya, maka makin efektif pula pencapaian tujuan. Prinsip-prinsip belajar mengajar juga harus diperhatikan dan diterapkan. Prinsip-prinsip belajar mengajar tersebut bermacam-macam adanya. Namun diantara berbagai prinsip tersebut tentu ada yang dapat dijadikan sebagai masukan untuk para pengajar guna kelangsungan dari proses belajar mengajar.
Mengajarkan pemecahan kepada siswa meruoakan kegiatan dari seorang guru dimana guru itu membangkitkan siswa-siswanya agar menerimadan merespon pertanyaan-pertanyan yang diajukan olehnya dan kemudian ia membimbing siswa-siswanya untuk sampai kepada penyelesaian masalah.
Bagi siswa, pemecahan pemecahan masalah hsruslah dipelajari. Di dalam menyelesaikan masalah, siswa diharapkan memahami prosesmenyelesaikan masalah tersebut dan menjadi terampil di dalam memilih dan mengidentifikasikan kondisi dan konsep yang relevan, mencari gneralisai, merumuskan rencana penyeesaian dan mengorganisasikan keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar Bey Hasibuan. Psikologi Pendidikan, Pustaka widyasarana, Medan, 1994
H. Mansyur. Strategi Belajar Mengajar, PPG 12170, Modul 1-6, Jakarta, 1998
Herman Hudoyo, Pengembangan Kurikulum Pembelajaran Matematika, Jakarta, 2001
S, Nasution. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Bumi Aksara, Jakarta, 2000
Suharsini Arikunto. Dasar-Dasar Evaluasi pendidikan, Buni Aksara, Jakarta, 1991
Tim MKDK. Psikologi Pendidikan, IKIP Surabaya, 1990
Wasty Soemanto. Psikologi Pendidikan, Bina Aksara, Jakarta, 1987
0 komentar:
Posting Komentar